Friday, 27 September 2019

Inilah Pendiri Sekaligus Pemimpin China




Bagi kalian yang mungkin sedang berliburan, kuliah atau bekerja ke Negara Gajah Putih atau Taiwan pastinya akan bertanya-tanya bagaimana sih Negara Taiwan itu bisa berdiri dan siapa pula pendirinya. Nah kali ini saya akan membagikan ilmu seputar pendiri Taiwan sebagai berikut

Pendiri Taiwan adalah Chiang Kai Shek. Mari kita telisik biografinya sebagai berikut :
Chiang Kai-shek (31 Oktober 1887 - 5 April 1975) adalah seorang pemimpin politik dan militer Tiongkok abad ke-20. Dalam Bahasa Mandarin dia dikenal sebagai Jiang Jieshi (蒋介石) atau Jiang Zhongzheng (蒋中正). Chiang adalah seorang anggota berpengaruh di Partai Kuomintang (KMT), atau Partai Nasionalis. Ia juga merupakan sekutu dekat Sun Yat-sen. Ia menjadi Komandan Akademi Militer Whampoa milik partai Kuomintang, dan menggantikan Sun menjadi pemimpin KMT ketika Sun meninggal pada tahun 1925.

Pada tahun 1926, Chiang memimpin Ekspedisi Utara dalam misi penyatuan negara, serta menjadi pemimpin penting di Tiongkok. Dia menjabat sebagai Ketua Dewan Militer Nasional pemerintahan Nasionalis Republik Tiongkok (RC) pada tahun 1928-1948.

Chiang memimpin Tiongkok dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua. Pada saat itu kekuasaan pemerintah Nasionalis sangat lemah, namun ia semakin menonjol. Tidak seperti Sun Yat-sen, Chiang Kai-shek secara sosial berpaham konservatif. Ia mempromosikan budaya tradisional Tionghoa melalui Gerakan Hidup Baru dan menolak demokrasi Barat. Dia pun menolak sosialisme demokratis nasionalis yang didukung oleh Sun Yat Sen dan beberapa anggota untuk menuju terbentuknya pemerintahan otoriter nasionalis.



Presiden Republik Tiongkok ke-1 dan ke-5 (Konstitusi 1947)
Masa jabatan 20 Mei 1948 – 5 April 1975
Wakil Presiden Li Tsung-jen (1948–1954)
                            Chen Cheng (1954–1965)
                            Yen Chia-kan (1966–1975)
Pengganti          Yen Chia-kan

Ketua Pemerintah Nasional Tiongkok
Masa jabatan 10 Oktober 1928 – 15 Desember 1931
Perdana Menteri  Tan Yankai, Soong Tse-ven
Pendahulu              Gu Weijun (Pejabat)
Pengganti                Lin Sen
Masa jabatan
1 Agustus 1943 – 20 Mei 1948
Pejabat sampai 10 Oktober 1943
Perdana Menteri   Soong Tse-ven
Pendahulu              Lin Sen
Pengganti                Diri (sebagai Presiden Republik China)

Ketua Nasional Dewan Militer
Masa jabatan
15 Desember 1931 – 31 Mei 1946
Pendahulu     Posisi didirikan
Pengganti       Posisi dihapuskan
Masa jabatan 1 Maret 1950 – 5 April 1975
Perdana Menteri Yen Hsi-shan, Chen Cheng, Yu Hung-Chun, Chen Cheng, Yen Chia-kan, Chiang Ching-kuo
Wakil Presiden     Li Zongren, Chen Cheng, Yen Chia-kan
Pendahulu            Li Zongren (Pejabat)
Pengganti              Yen Chia-kan
Perdana Menteri Republik China
Masa jabatan
4 Desember 1930 – 15 Desember, 1931
Pendahulu        Soong Tse-ven
Pengganti          Chen Mingshu
Masa jabatan
9 Desember 1935 – 1 Januari 1938
Presiden     Lin Sen
Pendahulu  Wang Jingwei
Pengganti    Hsiang-hsi Kung
Masa jabatan
20 November 1939 – 31 Mei 1945
Presiden  Lin Sen
Pendahulu Hsiang-hsi Kung
Pengganti   Soong Tse-ven
Masa jabatan
1 Maret 1947 – 18 April 1947
Pendahulu   Soong Tse-ven
Pengganti   Chang Chun
Direktur-Jenderal Kuomintang ke-1 dan 3
Masa jabatan
29 Maret 1938 – 5 April 1975
Pendahulu  Hu Hanmin
Pengganti  Chiang Ching-kuo (sebagai Ketua Kuomintang)
Informasi pribadi
Lahir                       31 Oktober 1887 Fenghua, Chekiang, Tiongkok
Meninggal dunia 5 April 1975 (umur 87) Taipei, Taiwan
Kebangsaan   Republik Tiongkok
Partai politik  Kuomintang
Pasangan         Mao Fumei, Yao Yecheng, Chen Jieru, Soong May-ling
Anak               Chiang Ching-kuo dan Chiang Wei-kuo
Alma mater   Imperial Japanese Army Academy
Pekerjaan     Prajurit (Generalissimo), Politikus

Sun Yat Sen, pendahulu Chiang, sangat disukai dan dihormati oleh kelompok komunis. Setelah Sun Yat Sen wafat, Chiang Kai Sek tidak mampu menjaga hubungan baik dengan Partai Komunis Tiongkok. Perpecahan besar antara kelompok Nasionalis dengan Komunis terjadi pada tahun 1927. Di bawah kepemimpinan Chiang, kelompok nasionalis mengobarkan perang saudara melawan Komunis. Setelah Jepang menyerang Tiongkok pada tahun 1937, Ching menyetujui gencatan senjata sementara dengan partai Komunis. hingga Jepang menyerah kepada sekutu pada tahun 1945, baik Partai Komunis maupun Partai Kouomintang tidak saling mempercayai maupun aktif bekerja sama. Perang saudara kembali berlanjut setelah upaya negosiasi untuk membentuk pemerintahan koalisi pada tahun 1946 mengalami kegagalan.

Pada tahun 1949 kelompok Komunis mengalahkan kelompok Nasionalis, memaksa pemerintah Chiang mundur ke Taiwan, di mana Chiang dikenakan Darurat militer dan orang-orang teraniaya kritis pemerintahannya dalam periode yang dikenal sebagai "Teror Putih". Setelah mengevakuasi ke Taiwan, pemerintahan Chiang terus menyatakan niatnya untuk merebut kembali daratan Tiongkok. Chiang memerintah pulau aman sebagai Presiden Republik Tiongkok dan Jenderal Kuomintang sampai kematiannya pada tahun 1975. Dia memerintah daratan Tiongkok selama 22 tahun, dan Taiwan selama 26 tahun.

Sekian dulu blog dari saya maaf bila ada salah kata apabila ada kekurangan silahkan kasih komentar di kolom komentar. Have A Nice ^_^

Wednesday, 25 September 2019

Penjelasan Kitab Ramayana



Siapa sih yang gak pernah denger atau tau tentang Ramayana pasti banyak di kalangan masyarakat mengenal cerita itu sedikit demi sedikit entah dari literatur yang beredar, wayang, dan media lainnya.

Namun karena kali ini saya ingin mempelajari lebih jauh apa sih itu Kitab Ramayana dan di dalamnya terdapat cerita yang bagaimana? Mari kita cari definisi kata Ramayana itu sebagai berikut.

Definisi Ramayana

Kata Ramayana berasal dari bahasa Sanskeṛta yaitu dari kata Rāma dan Ayaṇa yang berarti “Perjalanan Rāmā”, adalah sebuah cerita epos dari India yang digubah oleh Valmiki  (Valmiki) atau Balmiki. Rāmāyana terdapat pula dalam khazanah sastra Jawa dalam bentuk kakawin Rāmāyana. Dalam bahasa Melayu didapati pula Hikayat Seri Rāmā yang isinya berbeda dengan kakawin Rāmāyana dalam bahasa Jawa kuna. Di India dalam bahasa Sanskeṛta, Rāmāyana dibagi menjadi tujuh kitab atau kanda yaitu; Bālakānda, Ayodhyākāṇḍa, Āraṇyakāṇḍa, Kiṣkindhakāṇḍa, Sundarakāṇḍa, Yuddhakāṇḍa, dan Uttarakāṇḍa. Bālakānda atau kitab pertama Rāmāyana menceritakan sang Daśaratha yang menjadi Raja di Ayodhyā. Sang raja ini mempunyai tiga istri yaitu: Dewi Kauśalyā, Dewi Kaikeyī dan Dewi Sumitrā. Dewi Kauśalyā berputrakan Sang Rāmā, Dewi Kaikeyī berputrakan sang Barata, lalu Dewi Sumitrā berputrakan sang Lakṣamaṇa dan sang Satrugṇa.

Nah, kira-kira seperti itulah intinya selanjutnya mari kita cari tau isi kitab Ramayana itu sendiri ya mungkin kali ini agak panjang ceritanya karena memang ya yang namanya kita itu tebel pasti banyak  cerita yang terselip di dalamnya. Tapi saya akan mencoba untuk meringkasnya.

1. Bālakānda atau kitab pertama Rāmāyana menceritakan sang Daśaratha yang menjadi Raja di Ayodhyā. Sang raja ini mempunyai tiga istri yaitu: Dewi Kauśalyā, Dewi Kaikeyī  dan Dewi Sumitrā. Dewi Kauśalyā berputrakan Sang Rāmā, Dewi Kaikeyī berputrakan sang Barata, lalu Dewi Sumitrā berputrakan sang Lakṣamaṇa dan sang Satrugṇa.

2. Ayodhyākāṇḍa merupakam kitab kedua Ramayana yang menceritakan tentang kehidupannya selama di ibu kota Kosala yaitu Ayodhyā.

3. Aranyakanda adalah kitab ketiga Ramayana dalam kitab ini diceritakanlah bagaimana sang Rāmā dan Lakṣamaṇa membantu para tapa di sebuah asrama mengusir sekalian raksasa yang datang mengganggu.

4. Kiskindhakanda adalah kitab keempat Ramayana dalam kitab ini diceritakan bagaimana sang Rāmā amat berduka cita akan hilangnya Dewi Sītā. Lalu bersama Lakṣamaṇa ia menyusup ke hutan belantara dan sampai di gunung Ṛsīmuka. Maka di sana berkelahilah sang kera Subali melawan Sugrivā memperebutkan dewi Tara. Sang Sugrivā kalah lalu mengutus abdinya sang Hanumān meminta tolong kepada Śrī Rāmā untuk membunuh Bali, Rāmā setuju dan si Bali mati.

5. Sundarakāṇḍa adalah kitab kelima Ramayana dalam kitab ini diceritakan bagaimana sang Hanumān datang ke Alengkapura mencari tahu akan keadaan Dewi Sītā dan membakar kota Alengkapura karena iseng. Inti dari kisah Rāmāyana adalah penculikan Sītā oleh Rāvaṇa raja Kerajaan Alengka yang ingin mengawininya. Penculikan ini berakibat dengan hancurnya Kerajaan Alengka oleh serangan Rāmā yang dibantu bangsa Wanara dari Kerajaan Kiskenda.

6. Yuddhakāṇḍa adalah kitab keenam Ramayana dan sekaligus klimaks. Dalam kitab ini diceritakan sang Rāmā dan sang raja kera Sugrivā mengerahkan bala tentara kera menyiapkan penyerangan Alengkapura. Karena Alengka ini terletak pada sebuah pulau, sulitlah bagaimana mereka harus menyerang. Maka mereka bersiasat dan akhirnya memutuskan membuat jembatan bendungan (situbanda) dari daratan ke pulau Alengka. Para bala tentara kera dikerahkan. Pada saat pembangunan jembatan ini mereka banyak diganggu tetapi akhirnya selesai dan Alengkapura dapat diserang. Syahdan terjadilah perang besar. Para raksasa banyak yang mati dan prabu Rāvaṇa gugur di tangan Śrī Rāmā.

7. Uttarakāṇḍa adalah kitab ketujuh Ramayana menceritakan kisah pembuangan Dewi Sītā karena Sang Rāmā mendengar desas-desus dari rakyat yang sangsi dengan kesucian Dewi Sītā. Kemudian Dewi Sītā tinggal di pertapaan Ṛsī Valmiki dan melahirkan Kusa dan Lawa. Kusa dan Lawa datang ke istana Sang Rāmā pada saat upacara Aswamedha. Pada saat itulah mereka menyanyikan Rāmāyana yang digubah oleh Ṛsī Valmiki. Uttarakanda adalah kitab ke-7 Rāmāyana. Diperkirakan kitab ini merupakan tambahan. Kitab Uttarakanda dalam bentuk prosa ditemukan pula dalam bahasa Jawa Kuna. Isinya tidak diketemukan dalam Kakawin Rāmāyana. Di permulaan versi Jawa Kuna ini ada referensi merujuk ke prabu Dharmawangsa Teguh.

Dan itulah inti dari ketujuh kitab Ramayana yang kesemuanya hampir mencakup kehidupan sang Rama yang terjadi selama di Ayodhya. Jangan lupa dari ketujuh kitab ada kisah bahagia di bagian kitab terakhir atau tambahan Uttarakanda yang menceritakan bahwasannya Setelah Rāvaṇa berhasil dikalahkan, Rāmā, Lakṣmana dan Sītā beserta para wanara pergi ke Ayodhyā. Di sana mereka disambut oleh Bharata dan Kaikeyī. Lakṣmana hendak dianugerahi Yuwaraja oleh Rāmā, namun ia menolak karena merasa Bharata lebih pantas menerimanya dibandingkan dirinya, sebab Bharata memerintah Ayodhyā dengan baik dan bijaksana selama Rāmā dan Lakṣmana tinggal di hutan.

Setelah pertempuran besar melawan Rāvaṇa berakhir, Rāmā juga hendak memberikan hadiah untuk Hanumān. Namun Hanumān menolak karena ia hanya ingin agar Śrī Rāmā bersemayam di dalam hatinya. Rāmā mengerti maksud Hanumān dan bersemayam secara rohaniah dalam jasmaninya. Akhirnya Hanumān pergi bermeditasi di puncak gunung mendo’akan keselamatan dunia. Setelah pulang ke Ayodhyā, Rāmā, Sītā, dan Lakṣmana disambut oleh Bharata dengan upacara kebesaran. Bharata kemudian menyerahkan takhta kerajaan kepada Rāmā sebagai raja. Dalam pemerintahan Rāmā terdengar desas-desus di kalangan rakyat jelata yang meragukan kesucian Sītā di dalam istana Rāvaṇa. Rāmā merasa tertekan mendengar suara sumbang tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk membuang Sītā yang sedang mengandung ke dalam hutan. Dalam pembuangannya itu, Sītā ditolong seorang Ṛsī bernama Valmiki dan diberi tempat tinggal.

Beberapa waktu kemudian, Sītā melahirkan sepasang anak kembar diberi nama Lawa dan Kusa. Keduanya dibesarkan dalam asrama Ṛsī Valmiki dan diajari nyanyian yang mengagungkan nama Rāmācandra, ayah mereka. Suatu ketika Rāmā mengadakan upacara Aswamedha. Ia melihat dua pemuda kembar muncul dan menyanyikan sebuah lagu indah yang menceritakan tentang kisah perjalanan dirinya dahulu.

Rāmā pun menyadari kalau kedua pemuda yang tersebut yang tidak lain adalah Lawa dan Kusa merupakan anak-anaknya sendiri. Atas permintaan Rāmā melalui Lawa dan Kusa, Sītā pun dibawa kembali ke Ayodhyā. Namun masih saja terdengar desas-desus kalau kedua anak kembar tersebut bukan anak kandung Rāmā. Mendengar hal itu, Sītā pun bersumpah jika ia pernah berselingkuh maka bumi tidak akan sudi menerimanya. Tiba-tiba bumi pun terbelah. Dewi Pertiwi muncul dan membawa Sītā masuk ke dalam tanah. Menyaksikan hal itu Rāmā sangat sedih. Ia pun menyerahkan takhta Ayodhyā dan setelah itu bertapa di Sungai Gangga sampai akhir hayatnya.

Sekian dulu blog daei saya maaf bila ada salah kata silahkan berikan kritik dan saran Anda di kolom komentar di bawah blogsite ini. Terimakasih Sudah mengunjungi blog saya. Have A Nice Day ^_^

Saturday, 15 June 2019

Penjelasan Tentang Politik Etis

Image result for politik etis

Pelaksanaan politik pintu terbuka, tidak membawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tetap buruk nasibnya. Banyak di antara penduduk yang bekerja di perkebunan-perkebunan swasta dan pabrik-pabrik dengan perjanjian kontrak kerja. Merke terikat kontrak yang sangat merugikan. Mereka harus bekerja keras tetapi tidak setimpal upahnya dan tidak terjamin makan dan kesehatannya. Nasib rakyat sungguh sangat sengsara dan miskin. Melihat kenyataan itu, para pengabdi kemanusiaan yang dulu menentang tanam paksa, mendorong pemerintah kolonial untuk memperbaiki nasib rakyat Indonesia. Sudah menjadi kewajiban pemerintah Belanda untuk memajukan bangsa Indonesia, baik jasmani maupun rohaninya. Dengan dalih untuk memajukan bangsa Indonesia itulah kemudian dilaksanakan Politik Etis.

Pencetus politik etis (politik balas budi) ini adalah Van Deventer. Van Deventer memperjuangkan nasib bangsa Indonesia dengan menulis karangan dalam majalah De Gids yang berjudul Eeu Ereschuld (Hutang Budi). Van Deventer menjelaskan bahwa Belanda telah berhutang budi kepada rakyat Indonesia. Hutang budi itu harus dikembalikan dengan memperbaiki nasib rakyat, mencerdaskan dan memakmurkan. Menurut Van Deventer, ada 3 cara untuk memperbaiki nasib rakyat tersebut yaitu memajukan :

a. Edukasi (Pendidikan)
    Dengan edukasiakan dapat meningkatkan kualitas bangsa Indonesia sehingga dapat diajak    memajukan perusahaan perkebunan dan mengurangi keterbelakangan. 

b. Irigasi (pengairan)
     Dengan irigasi tanah pertanian akan menjadi subur dan produksinya bertambah.

c. Emigrasi (pemindahan penduduk)
    Dengan emigrasi tanah-tanah di luar Jawa yang belum diolah menjadi lahan perkebunan, akan dapat diolah untuk menambah penghasilan. Selain itu juga untuk mengurangi kepadatan penduduk Jawa.

Pendukung Politik Etis usulan Van Deventer adalah sebagai berikut:

  • Mr. P. Brooshoof, redaktur surat kabar De Lokomotif, yang pada tahun 1901 menulis buku berjudul De Ethische Koers In de Koloniale Politiek (Tujuan Ethis dalam Politik Kolonial).
  • K. F. Holle, banyak membantu kaum tani.
  • Van Vollen Hoven, banyak memperdalam hukum adat pada beberapa suku bangsa di Idnoneisa.
  • Abendanon, banyak memikirkan soal pendidikan  penduduk pribumi.
  • Leveigoed, seorang jurnalis yang banyak menulis tentang rakyat Indonesia.
  • Van Kol, banyak menulis tentang keadaan pemerintahan Hindia Belanda.
  • Douwes Dekker (Multatuli), dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar, Saya dan Adinda.
  • Douwes Dekker (Multatuli), dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar, Saya dan Adinda.

Usulan Van Deventer tersebut mendapat perhatian besar dari pemerintah Belanda, pemerintah Belanda menerima saran tentang Politik Etik, namun akan diselaraskan dengan sistem kolonial di Indonesia (Edukasi dilaksanakan, tetapi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pegawai rendahan). Pendidikan dipisah-pisah antara orang Belanda, anak bangsawan, dan rakyat. Bagi rakyat kecil hanya tersedia sekolah rendah untuk mendidik  anak menjadi orang yang setia pada penjajah, pandai dalam administrasi dan snaggup menjadi pegawai dengan gaji yang rendah. Dalam bidang irigasi (pengairan) diadakan pembangunan dan perbaikan. Tetapi pengairan tersebut tidak ditujukan untuk pengairan sawah dan ladang milik rakyat, namun untuk mengairi perkebunan-perkebunan milik seasta asing dan pemerintah kolonial.

Emigrasi juga dilaksanakan oleh pemerintah Belanda bukan untuk memberikan penghidupan yang layak serta pemerataan penduduk, tetapi untuk membuka hutan-hutan baru di luar pulau Jawa bagi perkebunan dan perusahaan swasta asing. Selain itu juga untuk mendapatkan tenaga kerja yang murah. 

Jelaslah bahwa pemerintah Belanda telah menyelewengkan Politik Etis. Usaha-usaha yang dilaksanakan baik edukasi, irigasi, dan emgrasi, tidak untuk memajukan rakyat Indonesia, tetapi untuk kepentingan penjajah itu sendiri. Sikap penjajah Belanda yang demikian itu telah menyadarkan bangsa Indonesia bahwa penderitaan dan kemiskinan rakyat Indonesia dapat diperbaiki jika bangsa Indonesia bebas merdeka dan berdaulat.

Friday, 14 June 2019

Pengaruh Perluasan Kekuasaan Kolonial

Image result for gambar peta indonesia pada zaman hindia belanda


Kebijakan pemerintah kolonial Barat terhadap wilayah Indonesia, termasuk eksploitasi yang telah dilakukannya, dari kerja wajib, sewa tanah, tanam paksa, dan politik pintu terbuka semuanya selalu merugikan rakyat Indonesia dan sebaliknya selalu menguntungkan pemerintah kolonial. Ketidakadilan inilah yang kemudian mendapat reaksi keras terutama dari kalangan liberal. Setelah golongan liberal mendapat kemenangan politik di Belanda, maka muncullah perhatian untuk memajukan kemakmuran di tanah jajahan. Cara yang ditempuh antara lain mendesak pemerintah Belanda untuk meningkatkan kehidupan wilayah jajahan dengan pembangunan di 3 bidang yaitu irigasi, pendidikan, dan perpindahan penduduk.


Walaupun ada perubahan dari tanam paksa ke ekonomi liberal, tetapi praktiknya bagi rakyat sama saja. Karena perubahan dari perusahaan negara ke perusahaan swata tidak berbeda. Kedua-duanya sama mengeksploitasi Indonesia untuk keuntungan yang sebesar-besarnya. Perbedaannya hanya terletak bahwa kini Indonesia terbuka bagi penanaman modal asing, meskipun modal Belanda lebij diutamakan. Akibatnya terjadi internasional perdagangan di Indonesia. Perusahaan-perusahaan besar di bidang perkebunan dan pertambangan dengan modal Belanda, Inggris, Belgia, Cina, dan Jepang muncul di Indonesia. Diharapkan dengan adanya penanaman modal asing ini keinginan untuk memasukkan kekuasaan politik oleh negara-negara lain di Indonesia dapat dihindarkan. Namun kenyataanya ada juga pengaruh perluasan kekuasaan kolonial terhadap munculnya Nasionalisme Indonesia.

Dalam politik liberal ditekankan adanya perlindungan terhadp rakayt. Tetapi kenyataannya ada kecenderungan untuk menghambat kemajuan rakyat. Sebab meningkatkan taraf hidup rakyat berarti menghendaki modal. Padahal keuntungan perusahaan terletak karena tersedianya tenaga buruh yang murah. Timbul kontradiksi yang rumit penyelesaiannya dalam hubungan politik dan ekonomi kolonial. Akibatnya rakyat tetap menderita dan hidup sengsara. Melihat kepincangan tersebut, timbul di negeri Belanda suatu pemikiran untuk menghapuskan politik exploitasi,dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Partai-partai, bbaik partai agama maupun sosialis, mengecam pemerintah yang selama ini hanya mengeruk keuntungan saja tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat. Mereka menuntut adanya suatu perubahan dalam sistem pemerintahan di Indonesia, suatu perubahanyang dapat membawa peningkatan budaya rakyat pribumi.

Selaras dengan perkembangan ekonomi, pemerintah tidak dapat mengelak lagi untuk mengadakan pembangunan. Karena kemajuan pesat perusahaan –perusahaan juga berkaitan dengan kebutuhan akan sarana-sarana lainnya. Seperti komunikasi yang lancar, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Di bidang administrasi pemerintah, pemerintah mengadakan beberapa perubahan. Seperti memperjelas kekuasaan bupati. Menciptakan undang-undang desentralisasi tahun 1903, dan pembentukan dewan-dewan kota dan daerah. Departemen-departemen baru, seperti Departemen Pertanian (1904), Departemen Perusahaan-Perusahaan Negara (1907), dibentuk. Pada permulaan abad ke-20 dibentuk dinas-dinas seperti Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kerajinan. Sedangkan Dinas Kesehatan dan Pengajaran diperluas.

Di bidang komunikasi, pemerintah melaksanankan pembangunan jalan raya dan jaringan kereta api di Jawa dan Sumatera. Pelabuhan baru dibangun seperti Tanjung Priuk, Tanjung Perak, Teluk Bayur dan Belawan. Juga hubungan telegram dengan Eropa diadakan. Lancarnya komunikasi tidak hanya menguntungkan lalu lintas perdagangan tetapi juga menguntungkan bagi penduduk dan pemerintah umumnya. Untuk meningkatkan kesehatan rakyat, dilaukan pemberantasan penyakit menular, seperti pes, kolera, malaria, dan sebagainya.

Untuk meningkatkan pertanian. Pemerintah membangun irigsi yang luas, seperti irigasi Brantas di Jawa Timur. Untuk kepentingan petani dan rakyat kecil didirikan bank-bankkredit, pertanian, bank padi, bank simpanan, dan rumah-rumah gadai. Koperasi juga didirikan tetapi kurang mendapat kemajuan. Meskipun usaha ini tidak berhasil mendorong produksi pribumi, tetapi telah berhasil mendidik rakyat tentang penggunaan uang. Untuk mengurangi kepadatan penduduk suatu daerah di Jawa, pemerintah melaksanakan transmigrasi. Daerah sasaran utama ialah Sumatera Timur untuk buruh perkebunan dan Lampung.

Meskipun pemerintah telah dapat melaksanakan pembangunan di berbagai bidang akan tetapi tujuan utamanya adalah untuk kepentingan pemerintah kolonial dan kaum kapitalis (pemilik modal), hasilnya tidak begitu terasa bagi rakyat. Bahkan kehidupan rakyat semakin tergantung kepada pengusaha dan pemilik modal sebagai penyewa tanah dan pembeli tenaganya. Tingkat kehidupan ekonomi rakyat masih tetap rendah. Perbedaan di bidang ekonomi, sosial, dan politik antara golongan Barat/asing dengan golongan pribumi sangat besar. Bahkan diskriminasi berdasarkan warna kulit semakin kuat. Penderitaan dan keterbelakangan rakyat yang berkepanjangan akibat penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial menimbulkan rasa kebencian yang mendalam. Di tambah adanya diskriminasi terhadap warna kulit untuk golongan Bumi Putera maka kebencian dan rasa tidak puas semakin memuncak, yang akhirnya timbul keberanian untuk bangkit dan menentang kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial dana da sebagian rakyat yang mengadakan perlawanan untuk membela martabat rakyat dan bangsnaya. Itulah semangat nasionalisme mulai muncul pada diri rakyat Indonesia. 

Thursday, 13 June 2019

Daerah-Daerah Persebaran Agama Kristiani

Image result for agama kristen




Agama Kristen lahir di Kota Betlehem, daerah Palestina. Agama Kristen untuk pertama kali disebarkan oleh Yesus Kristus. Pada waktu Kerajaan Romawi diperintah oleh Kaisar Augustus. Yesus mulai menyebarkan dan mengajarkan agama Nasrani atau agama Kristen setelah berumur 30 tahun dengan dibantu 12 orang muridnya. Dalam mengajarkan ajarannya, timbullah tantangan dari orang Yahudi. Sesudah selama 3 tahun Yesus bekerja dan dihukum mati oleh bangsa Yahudi dengan cara disalib.

Setelah Yesus wafat, maka murid-muridnya mulai menyebarkan agama Kristen. Penyebaran ini mulai di daerah Palestina, di kalangan orang Yahudi, baru kemudian disebarkan ke luar Palestina. Oleh tokoh-tokoh penyebar agama Kristen, seperti Paulus, Petruss, dan Johannes, agama Kristen disebarkan ke Yunani bahkan ke Roma, ibu kota kekaisaran Romawi. Atas usaha penyebar Injil (Kitab suci agama Kristen) maka agama ini cepat tersebar di kalanan penduduk, di kalangan bawah. Namun kaisar Romawi masih menentangnya, karena dianggap membahayakan kedudukan Kaisar, dan keutuhan negara.

Kaisar Romawi yang terkenal karena kekejamannya terhadap orang-orang penganur agama Kristen ialah Kaisar Nero. Ia menuduh orang Kristen melakukan pembakaran di kota Roma, maka sebagai hukumannya beribu-ribu orang Kristen dibunuh dan dibakar. Pada masa pemerintahan Kaisar Konstantin Agung, diumumkan adanya kebebasan beragama. Bahkan pada masa pemerintahan Kaisar Theodosius diumumkan bahwa agama Kristen menjadi agama negara. Halini menyebabkan agama Kristen makin tersebar di seluruh wilayah Kerajaan Romawi.

Sejak abad ke-3 sudah terlihat adanya perpecahann agama Kristen. Agama Kristen di Romawi Barat terpengaruh oleh sifat kebudayaan Roma. Agama ini berpusat di Roma dan disebut pimpinannya. Sedangkan agama Kristen di Romawi Timur dipengaruhi oleh sifat kebudayaan Yunani. Agama ini disebut agama Kristen Katolik Ortodoks dan berpusat di Konstantinopel serta dipimpin oleh beberapa Patriach. Pada masa kekaisaran Romawi , agama Kristen menyebar sampai Persia. Dari Persia agama ini tersebar lagi ke India,Asia Tengah, Cina, dan Siberia melalui jalan Sutera (Jalan Darat).

Pada waktu terjadi penjelajahan samudera, bangsa Portugis dan Spanyol membawa misionaris untuk menyebarkan agama Kristen Misionaris yang terkenal adalah Fransiskus Xaverius dan Mateus Ricci. Mereka menyebarkan agama Katolik ke India, Maluku, Cina, dan Jepang, sedangkan ke Filipina disebarkanoleh bangsa Spanyol. Fransiskus Xaverius menyebarkan agama Katolik di Indonesia bagian timur misalnya Maluku, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Pada abad ke-17, penyebaran agama Katolik mulai digantikan oleh Belanda (VOC). Tokoh penyebar agama Kristen protestan yang terkenal di Indonesia anttara lain ialah Dr. Nomensen di Tapanuli (Batak). Sebastian Danchaerts di Ambon, Heurnius di Jakarta dan Saparua.

Kehadiran Belanda di Idnonesia merubah peta pengkristenan di wilayah ini. Di Maluku, sebagian besar penduduk yang telah beragama Katholik berganti menjadi Calvinis, dan VOC melarang misi Katholik melakukan kegiatan keagamaan. Di berbagao tempat di mana VOC berkuasa, di situ merupakan pusat penyebaran agama Protestan. Mengapa? Karena Kerajaan Belanda memang memfasilitasi segala upaya penyebran agama itu. Tidak mengherankan kerika tahun 1817 seluruh gereja Protestan yang ada di berbagai daerah diakui sebagai gereja pemerintah.bahkan gereja-gereja di Minahasa, Maluku, dan Timor dijadikan gereja penrintis bagi penyebaran agama Protestan di kawasan Indonesia Timur.

Memasuki abad ke-19, penyebaran agama Kristiani semakin meluas ke berbagai wilayah di Indonesia. Kelompok misionaris Ketholik dan zending dari gereja reformasi baik dari Eropa maupun Amerika mulai berdatangan. Pada masa pendidikan Inggris tepatnya tahun 1814, Kelompok rohaniawan Nederlandsche Zendeling Genooftschap (NZG) dari Belanda yang didukung oleh London Misionary Society memulai aktivitas keagamaan merkea, terutama ditujukan kepada penduduk lokal. Pada tahun 1830-an muncul usaha menterjemahkan Injil ke dalam bahasa Jawa setelah sebelumnya usaha yang sama dilakukan untuk menterjemahkan kitab suci ke dalam bahasa Melayu. Keberadaan NZG dan beberapa zendding yang lain telah memascu perkembangan agama Kristianikhususnya dari gerakan reformasi yang sangat pesat di seluruh Indonesia. Biarpun penyebaran agama Kristiani telah dimulai pertama kali  pada tahun 1563, sampai tahun 1822 perkembangan agama Kristiani masih terfokus di daerah pantai. Keadaan yang sama juga terjadi di Sangir Talaud yang menunjukkan perkembangan pesat sejak tahun 1855.

Sementara itu usaha pengkristenan Poso, Toraja dan beberapa daerah di Sulawesi dan Tengah semakin berkembang sejak kedatangan C. Kruyt dan N. Adriani pada dekade terkahir ke-19.

Salah satu fenomena yang menarik dari perkembangan agama Kristiani di Idnonesia adalah munculnya gereja-gereja lokal yang sebagian dari mereka pada masa kolonial tidak diakul oleh gereja-gereja yang datang dari barat. Penyebaran agama Kristiani di daerah Mojowarno Jawa Timur yang dilakukan oleh Kyai Tunggal Wulung dan di Bagelan Jawa Tengah oleh Kyai Sadrach merupakan contoh dari pertemuan antara kepercayaan dan budaya lokal dengan agama Kristiani.

Jika Sebelumnya sebagian besar pemeluk agama Kristiani di Jawa terdiri atas penduduk perkotaan, di bawah gereja-gereja lokal berkembang komunitas Kristiani di daerah pedesaan. Pertemuan dengan unsur-unsur lokal itu di jawa kemudian menghasilkan gereja seperti Pasamuan Kristen Jawa Merdika, Gerjea Kristen Jawa, Gereja Kristen Sunda, dan Gereja Kristen Jawi Wetan. Di pulau-pulau yang lain terdapat juga beberapa gereja lokal, seperti di kalangan masyarakat Batak, Minahasa dan lain sebagainya.

Wednesday, 12 June 2019

Proses Penyusunan Dasar dan Konstitusi untuk Negara Indonesia yang Akan Didirikan

Image result for bpupki




Setelah anggota BPUPKI dilanti, kemudian mulai bersidang. Dalam hal ini tugas BPUPKI adalah menyusun Dasar dan Konstitusi untuk negara Indonesia yang akan didirikan. BPUPKI mulai bersidang tanggal 29 Mei 1945. Sidang BPUPKI berlangsung 2 tahap yaitu sidang pertama tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945. Sedangkan sidang kedua berlangsung dari tanggal 19-17 Juli 1945.

1. Sidang BPUPKI I (29 Mei – 1 Juni 1945)
Sidang ini merumuskan undang-undang dasar yang dimulai dengan membahas dasar negara Indonesia Merdeka. Ada 3 pandangan yang dikemukakan mengenai dasar negara Indonesia merdeka. Pada tanggal 29 Mei 1945, hari pertama persidangan pertama BPUPKI, Muh.Yamin dalam pidatonya mengemukakan Asas Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia. Asas Dasar adalah sebagai berikut.

  1. Peri Kebangsaan
  2. Peri Kemanusiaan
  3. Peri Ketuhanan
  4. Peri Kerakyatan
  5. Kesejahteraan Rakyat

Pada tanggal 31 Mei 1945, Prof. Dr. Mr. Supomo memusatkan pidatonya pada dasar negara Indonesia  Merdeka. Menurut beliau, dasar-dasar bagi Indonesia merdeka adalah sebagai berikut:

  1. Persatuan
  2. Kekeluargaan
  3. Keseimbangan lahir batin.
  4. Musyawarah
  5. Keadilan rakyat

Keesokan harinya pada tanggal 1 juni 1945 yang merupakan rapat terakhir dalam sidang pertama, Ir. Soekarno dalam pidatonya mengemukakan perumusan lima dasar negara Indonesia merdeka, yaitu :

  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisme atau perikemanusiaan;
  3. Mufakat atau demokrasi;
  4. Kesejahteraan sosial;
  5. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pidato Ir.Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 selain berisi usul mengenai dasar negara Indonesia merdeka, juga berisi usul mengenai nama bagi dasar negara yakni Pancasila. Sidang pertama BPUPKI berkahir tanggal 1 Juni 1945. Dalam sidang pertama ini tidak menghasilkan kesimpulan atau perumusan. Pada waktu itu hanya ada saran-saran atau usulan mengenai rumusan dasar negara bagi Indonesia merdeka. Setelah itu BPUPKI mengadakan reses (istirahat sementara) selama lebih dari 1 bulan (sampai bulan Juni).

Sebelum reses, dibentuklah panitia kecil di bawah pimpinan Ir. Soekarno. Panitia kecil itu berjumah 8 norang dengan tugas menampung saran, usul dan konsepsi para anggota untuk diserahkan melalui sekretariat. Anggota lainnya dalam panitia kecil ini adalah Drs. Mohammad Hatta, Sutardjo Kartohadikusumo, Wachid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Otto Iskandardinata, Muhammad Yamin dan A. A. Maramis.

Ir. Soekarno melaporkan bahwa pada tanggal 22 juni 1945 Panitia Kecil itu mengadakan pertemuan dengan 38 anggota BPUPKI, sebagian di antaranya menghadiri sidang Cuo Sangi In. Hasil pertemuan itu adalah telah ditampungnya suara-suara dan usul-usul lisan anggota BPUPKI. Dalam pertemuan itu pula terbentuk panitia kecil lain yang berjumlah 9 orang, yang kemudia dikenal dengan Panitia Sembilan. Mereka itu terdiri atas : ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Muh. Yamin, Mr. Ahmad Subardjo, Mr. A. A. Maramis, Abdulkahar Muzakkir, Wachid Hasyim, H. Agus Salim, dan Abikusno Cokrosuyuso. Panitia sembilan tersebut berkumpul menyusun rumusan dasar negara berdaasarkan pandangan umum para anggota.

Akhirnya mereka berhasil merumuskan maksud dan tujuan pembentukan negara Indonesia Merdeka. Rumusan itu diterima secarad bulat dan ditandatangani. Oleh Mr. Muh Yamin rumusan hasil Panitia Sembilan itu diberi nama Jakarta Charter atau Piagam Jakarta.

Rumusan dasar negara Indonesia Merdeka berdasar Piagam Jakarta sebagai berikut:

  1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
  2. (menurut) dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. (dan) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
  5. (serta dengan mewujudkan suatu) keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

2. Sidang BPUPKI II (10 -  17 Juli 1945)
Sidang kedua BPUPKI ini membahasa rencana undang-undang dasar, termasuk pembukaan atau preambulenya (pembukaannya) oleh Panitia Perancangan Undang-Undang dasar yang diketuai oleh Ir.Soekarno. panitia ini berjumlah 19 orang (termasuk ketua). Adapun anggota-anggotanya adalah sebagai berikut:   
  1.  AA. Maramis
  2. Otto Iskandardinata
  3. Poeroebojo
  4. Agus Salim
  5. Mr. Ahmad Subardjo
  6. Prof. Dr. Mr. Supomo
  7. Mr. Maria Ulfah Santosa
  8. Wachid Hasyim
  9. Parada Harahap
  10. Mr. Latuharhary
  11. Mr. Susant Tritoprodjo
  12. Mr. Sartono
  13. Mr. Wongsonegoro
  14. Wuryaningrat
  15. Mr. R. P. Singgih
  16. Tan Eng Hoat
  17. Prof. Dr. P. A. Husein Djajadiningrat
  18. Dr. Sukiman

Pada sidang tanggal 11 Juli 1945, panitia Perancang Undang-Undang Dasar dengan suara bulat menyetujui isi preambule (pembukaan) yang diambil dari Piagam Jakarta. Kemudian dibentuk panitia kecil perancang Undang-Undang dengan anggota-anggotanya sebagai berikut:

  1. Mr. Wongsonegoro
  2. Mr. Ahmad Subardjo
  3. AA. Maramis
  4. Mr. R. P. Singgih
  5. Agus Salim
  6. Dr. Sukiman

Hasil perumusan panitia kecil ini disempurnakan bahasanya oleh “Panitia Penghalus Bahasa” yang terdiri atas Husein Djajadiningrat, H. Agus Salim, dan Supomo.

Pada sidang tanggal 14 Juli 1945, BPUPKI menerima laporan dari Panitia Perancang Undang-Undang  Dasar Ir. Soekarno selaku ketua melaporkan 3 hasil panitia, yaitu sebagai berikut :

  1. Pernyataan Indonesia Merdeka.
  2. Pembukaan Undang-Undang Dasar.
  3. Batang Tubuuh Undang-Undang Dasar.

Dalam sidang BPUPKI II ini disetujui secara bulat yaitu :

  1. Rancangan Hukum Dasar Indonesia Merdeka;
  2. Piagam Jakarta menjadi pembukaan Hukum Dasar itu.

Untuk pemubukaan Hukum Dasar diambil dari piagam Jakarta dengan beberapa perubahan yaitu sebagai berikut:

  1. Pada alinea ke-4, perkataan “Hukum Dasar”, diganti dengan “Undang-Undang Dasar”.
  2. .. berdasarkan kepada ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, diganti dengan: “berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemnusiaan yang adil dan beradab.”
  3. Dan di antara “Permusyawaratan perwakialan” dalam Undang-Undang Dasar ditambah dengan garis miring (/).

Pada tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKi dibubarkan sebagai gantinya dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau dalam bahasa Jepangnya Dokuritsu Junbi Inkai.  PPKi ini dibentuk sebagao badan yang akan mempersiapkan penyerahan kekuasaan pemerintah dari bala tentara Jepang kepada bangsa Indonesia. Yang juga bertugas untuk menenrukan dan menyelesaikan Rancangan Undang-Undang Dasar.